Home

Kamis, 24 November 2011

Chapter Two

"Mbak, sampeyan nggak pengen tinggal sendiri ta ?"
Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari mulut teman sekantorku.
"Ya...pengen lah?!" jawabku pasti sambil menambahkan, "Dari sebelum nikah, aku memang punya keinginan untuk tinggal berdua tok sama bojoku, tapi kalau kondisinya kayak gini, yo opo maneh ?!"
" Sakjane yo mungkin aja sih ?!" meskipun dalam hati berkata " Kayaknya nggak mungkin banget dech ".

Percakapan ini sudah berlangsung beberapa hari yang lalu, tapi semalam iseng-iseng aku ceritakan ke suamiku. Kemudian Mas Wira nanya, " Ok, sekarang aku tanya, mungkin yo opo ?"
" Ya....sampeyan tetep ngasih bapak sama ibu tapi nggak perlu nanggung yang lain-lain ".
" Bapak sama ibu itu nggak ada penghasilan, terus dapat uang darimana ?".
" Kan ada Tya, adikmu, kalau kita nggak tinggal disini kan belanjanya berkurang jadi dananya bisa dialokasikan ke yang lain ?!"
" Tya itu tanggungane banyak !?"
" Emang mas tahu, tanggungane Tya itu apa aja ?"
" Mbuh....!?"
" Hmmmmm......"
" Maksudku, biar dia juga belajar jadi nggak njagakno mas'e ae gitu, kayak kapan hari dia minta uang buat tabungan koperasinya ". 
" Wong kalau dia minta uang tapi aku lagi nggak punya, aku nggak kasih gitu lo !"
" Hmmm....." cuma itu yang bisa terucap sambil kepalaku bersandar di dada Mas Wira .

Akhirnya diskusi berakhir sampai disini, meski kadang suka sebel juga tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain "diam dan nikmati".







Tidak ada komentar:

Posting Komentar