" Wanita tercipta dari tulang rusuk pria, agar dia selalu dekat dihati pemiliknya dan merasakan apa yang dirasa pemiliknya ". Sebuah kalimat sederhana tapi sarat makna.
Mungkin ini sebabnya, kadang aku suka tiba-tiba sedih yang tidak bisa dijelaskan alasannya atau senang ketika melihat dia tersenyum atau tertawa atau berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat dia sedih.
Begitu berat beban yang dia pikul, kadang aku seperti merasa bersalah telah membuat dia berada dalam situasi seperti ini. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan karena ini adalah keinginan kita berdua yang telah dipikir dan ditimbang secara dewasa dan bukan hanya karena dorongan nafsu semata, hanya ada cinta dan do'a semoga kita selalu bersama selamanya dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Amiin......
Cinta bukan hanya saat anda merasa membutuhkannya. Cinta adalah saat berbagi......
Kamis, 23 Juni 2011
Selasa, 14 Juni 2011
Chapter One
" Mbak Ira, kemarin ibu ngobrol sama Tya ".
" Ngobrol apa to bu ?" tanyaku.
" Eh....ibu itu suka sedih nglihat masnya Tya, hampir separo gajinya dipake buat biaya operasional rumah ini, untung tenan mbakyumu kuwi bukan type perempuan yang suka minta ini itu ".
" Saya sama Mas Wira itu sudah sepakat buat bagi-bagi tugas koq, gajinya Mas Wira buat pengeluaran bulanan, lha gaji Saya buat ditabung ".
Itulah sepenggal obrolanku dengan mertua dan adik iparku.
Sejak menikah aku dan Mas Wira memang masih tinggal dirumah orangtuanya. Itupun atas permintaan ibu mertuaku, karena orangtua Mas Wira sudah tidak berpenghasilan dan masih ada adik Mas Wira yang masih perlu bantuan. Hal ini sudah lama dilontarkan sama mertuaku menjelang aku dan Mas Wira nikah. Tidak ada yang aneh dengan permintaan ibu, toh Bapak Ibuku sendiri juga sama, bedanya kelima anak-anaknya sudah mentas semua.
Setelah menikah, aku ajak mas Wira untuk membuat simulasi perencanaan keuangan untuk nantinya di crosscheck dengan realisasinya. Tapi sepertinya mbleset semuanya, banyak hal-hal diluar dugaan yang terjadi yang mengharuskan aku dan mas Wira menguras tabungan. Sebelum aku dan mas Wira menikah, ibu memang pernah cerita kalau ada emas warisan keluarga yang sayang bila dijual ke orang lain, akhirnya ibu membawanya ke pegadaian dan menawarkan ke anak-anaknya dan adik-adik bapak untuk menebus. Dulu aku sama mas Wira memang sudah patungan untuk nyicil nebus emas tapi karena kekurangtahuan kita soal gaden akhirnya banyak tanggungan yang ngendon dan harus segera ditebus dalam waktu tiga bulan setelah kita menikah, dan jumlahnya nggak tanggung-tanggung, mungkin bisa nyampe kurang lebih sembilan jutaan. Aku sama mas Wira sempat shock dengarnya, apalagi aku tahu mas Wira orangnya paling sensi kalau sudah bicara masalah uang. Pelan-pelan aku ajak bicara masalah ini, aku nggak tahu siapa yang milih, entah ibu atau mas Wira sendiri, tapi yang aku tahu sekarang ada tiga perhiasan emas 22 - 23 karat dengan berat kurang lebih 15 gr yang harus segera ditebus. Hanya ada satu jalan, deposito, aku tahu berat buat mas Wira untuk mencairkan karena itu adalah uangku, simpananku sebelum aku bertemu dengan mas Wira, dan baru aku pakai untuk biaya nikah, dan uang hasil buwuhan, oleh mas Wira diberikan semuanya ke aku sebagai ganti. Tapi sekarang, uang itu harus keluar lagi untuk diubah menjadi "harta yang tidak produktif" mengutip istilah dari seorang perencana keuangan Safir Senduk.
Belum hilang shock karena gaden, sekarang aku dan mas Wira sudah dibuat kaget lagi, karena diam-diam ibu membeli springbed buat kita, alasannya kasihan kalau lihat aku dan mas Wira tidur terpisah, aku diatas dan mas Wira dibawah, karena aku sekarang sudah hamil. Padahal kita berdua fine-fine aja. Di awal sih, ibu bilang, kalau yang nyicil kasur ini, biar ibu saja. Mas Wira pasti tahu kalau aku kurang begitu suka dengan keputusan ibu beli kasur, dan itu bisa terbaca ketika aku tanya, " Berapa harganya, mas ?".
Mas Wira cuma jawab, " Sudah nggak usah dipikirin ".
Tetep aja aku keukeuh nanya, " Berapa koq ?!".
Akhirnya dengan berat hati dia jawab, " Tiga juta lebih, tapi ibu yang bayarin ".
" Duitnya darimana ?".
" Nggak tahu !".
" Hmmmm..............".
Baru juga nyicil sekali, aku lihat ibu kelihatan murung kayak banyak pikiran. Aku coba tanya ke mas Wira, " Mas, aku lihat akhir-akhir ini, ibu koq murung ya, kayak ada yang dipikirin, mikirin apa to mas ?".
" Ya coba kamu tanya sendiri sama ibu ".
" Weleh. ya mana mungkin mau ngaku mas ".
" Mikirin Tya kali ya mas, wajarlah namanya juga orangtua, tapi adikmu itu emang nggak tahu ya, ga ngerti aku ". Tapi pikiranku masih berusaha keras untuk mencari tahu kenapa ibu murung seperti ini, nggak mungkin kalau cuma masalah tya, pasti ada yang lain. Dan tiba-tiba saja pikiran itu muncul, " Jangan-jangan, gara-gara cicilan kasur, Mas !".
" Ya, pasti gara-gara itu ibu murung !".
" Ya, coba nanti aku tanya sama ibu ".
Dan akhirnya suatu saat, tanpa banyak bertanya, mas Wira minta kartu cicilan kasur ke ibu, entah apa yang ada dipikiran ibu saat itu, senangkah atau mungkin merasa bersalah, aku tidak tahu.
Beberapa bulan menikah, aku merasa kasihan melihat mas Wira, dia pernah bilang, seperti merasa dibodohi, aku hanya bilang, " Itukan karena salah Mas Wira sendiri, sampeyan selalu emosi dulu kalau diajak ngomong masalah uang, padahal sebagai salah satu tulang punggung keluarga, sampeyan itu juga punya hak untuk bertanya, bahkan untuk membatasi pengeluaran". Mas Wira hanya bisa diam dan merenung, entah apa yang ada difikirannya saat itu.
Diam-diam dikantor, aku selalu mencari informasi tentang kiat-kiat mengelola keuangan keluarga, kemudian aku pelajari, kalau sekiranya bagus dan bisa aku aplikasikan di rumah tanggaku, aku print dan aku tunjukkan ke suamiku. Dari situ juga, diam-diam aku buat buku pengeluaran keluarga, dan di akhir bulan, aku tunjukkan ke mas Wira, dan dia senang karena sekarang dia sudah punya sekretaris merangkap manager keuangan pribadi. Aku bilang ke mas Wira, " Tahun-tahun awal permikahan, memang tahun yang berat buat pasangan baru, karena secara finansial belum stabil, jadi kita berdua musti sabar ya mas".
" Ngobrol apa to bu ?" tanyaku.
" Eh....ibu itu suka sedih nglihat masnya Tya, hampir separo gajinya dipake buat biaya operasional rumah ini, untung tenan mbakyumu kuwi bukan type perempuan yang suka minta ini itu ".
" Saya sama Mas Wira itu sudah sepakat buat bagi-bagi tugas koq, gajinya Mas Wira buat pengeluaran bulanan, lha gaji Saya buat ditabung ".
Itulah sepenggal obrolanku dengan mertua dan adik iparku.
Sejak menikah aku dan Mas Wira memang masih tinggal dirumah orangtuanya. Itupun atas permintaan ibu mertuaku, karena orangtua Mas Wira sudah tidak berpenghasilan dan masih ada adik Mas Wira yang masih perlu bantuan. Hal ini sudah lama dilontarkan sama mertuaku menjelang aku dan Mas Wira nikah. Tidak ada yang aneh dengan permintaan ibu, toh Bapak Ibuku sendiri juga sama, bedanya kelima anak-anaknya sudah mentas semua.
Setelah menikah, aku ajak mas Wira untuk membuat simulasi perencanaan keuangan untuk nantinya di crosscheck dengan realisasinya. Tapi sepertinya mbleset semuanya, banyak hal-hal diluar dugaan yang terjadi yang mengharuskan aku dan mas Wira menguras tabungan. Sebelum aku dan mas Wira menikah, ibu memang pernah cerita kalau ada emas warisan keluarga yang sayang bila dijual ke orang lain, akhirnya ibu membawanya ke pegadaian dan menawarkan ke anak-anaknya dan adik-adik bapak untuk menebus. Dulu aku sama mas Wira memang sudah patungan untuk nyicil nebus emas tapi karena kekurangtahuan kita soal gaden akhirnya banyak tanggungan yang ngendon dan harus segera ditebus dalam waktu tiga bulan setelah kita menikah, dan jumlahnya nggak tanggung-tanggung, mungkin bisa nyampe kurang lebih sembilan jutaan. Aku sama mas Wira sempat shock dengarnya, apalagi aku tahu mas Wira orangnya paling sensi kalau sudah bicara masalah uang. Pelan-pelan aku ajak bicara masalah ini, aku nggak tahu siapa yang milih, entah ibu atau mas Wira sendiri, tapi yang aku tahu sekarang ada tiga perhiasan emas 22 - 23 karat dengan berat kurang lebih 15 gr yang harus segera ditebus. Hanya ada satu jalan, deposito, aku tahu berat buat mas Wira untuk mencairkan karena itu adalah uangku, simpananku sebelum aku bertemu dengan mas Wira, dan baru aku pakai untuk biaya nikah, dan uang hasil buwuhan, oleh mas Wira diberikan semuanya ke aku sebagai ganti. Tapi sekarang, uang itu harus keluar lagi untuk diubah menjadi "harta yang tidak produktif" mengutip istilah dari seorang perencana keuangan Safir Senduk.
Belum hilang shock karena gaden, sekarang aku dan mas Wira sudah dibuat kaget lagi, karena diam-diam ibu membeli springbed buat kita, alasannya kasihan kalau lihat aku dan mas Wira tidur terpisah, aku diatas dan mas Wira dibawah, karena aku sekarang sudah hamil. Padahal kita berdua fine-fine aja. Di awal sih, ibu bilang, kalau yang nyicil kasur ini, biar ibu saja. Mas Wira pasti tahu kalau aku kurang begitu suka dengan keputusan ibu beli kasur, dan itu bisa terbaca ketika aku tanya, " Berapa harganya, mas ?".
Mas Wira cuma jawab, " Sudah nggak usah dipikirin ".
Tetep aja aku keukeuh nanya, " Berapa koq ?!".
Akhirnya dengan berat hati dia jawab, " Tiga juta lebih, tapi ibu yang bayarin ".
" Duitnya darimana ?".
" Nggak tahu !".
" Hmmmm..............".
Baru juga nyicil sekali, aku lihat ibu kelihatan murung kayak banyak pikiran. Aku coba tanya ke mas Wira, " Mas, aku lihat akhir-akhir ini, ibu koq murung ya, kayak ada yang dipikirin, mikirin apa to mas ?".
" Ya coba kamu tanya sendiri sama ibu ".
" Weleh. ya mana mungkin mau ngaku mas ".
" Mikirin Tya kali ya mas, wajarlah namanya juga orangtua, tapi adikmu itu emang nggak tahu ya, ga ngerti aku ". Tapi pikiranku masih berusaha keras untuk mencari tahu kenapa ibu murung seperti ini, nggak mungkin kalau cuma masalah tya, pasti ada yang lain. Dan tiba-tiba saja pikiran itu muncul, " Jangan-jangan, gara-gara cicilan kasur, Mas !".
" Ya, pasti gara-gara itu ibu murung !".
" Ya, coba nanti aku tanya sama ibu ".
Dan akhirnya suatu saat, tanpa banyak bertanya, mas Wira minta kartu cicilan kasur ke ibu, entah apa yang ada dipikiran ibu saat itu, senangkah atau mungkin merasa bersalah, aku tidak tahu.
Beberapa bulan menikah, aku merasa kasihan melihat mas Wira, dia pernah bilang, seperti merasa dibodohi, aku hanya bilang, " Itukan karena salah Mas Wira sendiri, sampeyan selalu emosi dulu kalau diajak ngomong masalah uang, padahal sebagai salah satu tulang punggung keluarga, sampeyan itu juga punya hak untuk bertanya, bahkan untuk membatasi pengeluaran". Mas Wira hanya bisa diam dan merenung, entah apa yang ada difikirannya saat itu.
Diam-diam dikantor, aku selalu mencari informasi tentang kiat-kiat mengelola keuangan keluarga, kemudian aku pelajari, kalau sekiranya bagus dan bisa aku aplikasikan di rumah tanggaku, aku print dan aku tunjukkan ke suamiku. Dari situ juga, diam-diam aku buat buku pengeluaran keluarga, dan di akhir bulan, aku tunjukkan ke mas Wira, dan dia senang karena sekarang dia sudah punya sekretaris merangkap manager keuangan pribadi. Aku bilang ke mas Wira, " Tahun-tahun awal permikahan, memang tahun yang berat buat pasangan baru, karena secara finansial belum stabil, jadi kita berdua musti sabar ya mas".
Jumat, 10 Juni 2011
Menanti Sebuah Jawaban
Bukan...............aku bukan sedang menanti sebuah jawaban, it's just a title of a song by PADI.
Lagu ini emang dahsyat banget, saking dahsyatnya aku seperti menghindar dari lagu ini. Tidak ada yang salah dengan lagu ini, this song is awesome, great music, great lyric tapi lagu ini membawa kenangan pahit. Feels like my heart being sliced and cry.
Masih ingat saat-saat itu sekitar tahun 2005 - 2006, aku pernah dekat dengan seorang laki-laki teman satu kantor, namanya Catur. Seingatku tidak pernah terucap kata "sayang" ataupun "cinta" dari mulutnya, tapi dari tindakan dan barang-barang pemberiannya aku merasa dan teman-teman yang lain merasa yakin bahwa ada perasaan lebih diantara kita. Tapi ternyata Tuhan punya rencana yang lebih baik buat kita. Suatu ketika aku mencuri dengar kalau Catur ada rencana nonton Minggu sore, merasa tidak diajak, naluri detektifku muncul. Aku tidak tahu dimana dia akan nonton dan jam berapa dia mau nonton, yang aku tahu hanya Minggu sore. Aku ajak temenku nonton ditempat biasanya Catur dan aku nonton (untungnya dia tidak cari tempat lain). Sampai di bioskop, aku lihat sekelilingku, tidak ada seorangpun yang aku kenal, tapi aku tetap beli tiket dan tetap berharap akan bertemu dia. Sampai saatnya masuk studio aku masih belum melihatnya, agak kecewa sebenarnya tapi ya sudahlah itung-itung refreshing. Ternyata skenario Tuhan berkata lain, ketika aku keluar dari studio dan berjalan keluar dari gedung bioskop, aku melihatnya bersama seorang perempuan. Jantungku berdegup kencang sekali, aku bahkan tidak mampu untuk melihatnya. Tapi Catur yang justru menyapaku, aku tidak punya pilihan lain kecuali berhenti dan tetap tenang meski bibirku bergetar saat ngobrol dan dikenalkan dengan teman perempuannya. Aku tidak mau berlama-lama ditempat itu, rasanya tubuh, jiwa dan pikiranku tidak sinkron saat itu. Akhirnya aku pamit dan tidak lupa mengucapkan " Selamat nonton !". Remuk rasanya hatiku, aku seperti kehilangan sesuatu yang mungkin tidak bisa aku temukan lagi.
Hatiku sudah bulat memutuskan, aku tidak mau berharap banyak dari dia meski di kantor aku tetap berlaku seperti biasa. Aku tidak benar-benar tahu apa sebenarnya yang ada dipikirannya, dia seperti masih ingin menjalin perasaan ini tapi di satu sisi, dia tidak mampu menolak perasaan yang ditawarkan teman perempuannya itu. Dia tidak mau kehilangan aku dan perempuan itu. Seiring berjalannya waktu, mungkin Catur sudah mulai sadar kalau aku sudah tidak memperhatikannya lagi. Aku bisa menangkap itu dari lagu-lagu yang dia putar di winamp komputernya. Lagu-lagu yang sampai sekarang amat sangat membekas perih di alam bawah sadarku. Sampai-sampai aku memilih untuk menggantinya saja dengan lagu lain. Tapi ada satu lagu yang membuat dia terdiam, karena seorang teman pernah mengatakan ini ketika Catur memutarnya, "Kamu bisa membohongi orang lain, tapi Kamu tidak bisa membohongi diri kamu sendiri ". Catur menanti sebuah jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah dia lontarkan.
Hatiku sudah bulat memutuskan, aku tidak mau berharap banyak dari dia meski di kantor aku tetap berlaku seperti biasa. Aku tidak benar-benar tahu apa sebenarnya yang ada dipikirannya, dia seperti masih ingin menjalin perasaan ini tapi di satu sisi, dia tidak mampu menolak perasaan yang ditawarkan teman perempuannya itu. Dia tidak mau kehilangan aku dan perempuan itu. Seiring berjalannya waktu, mungkin Catur sudah mulai sadar kalau aku sudah tidak memperhatikannya lagi. Aku bisa menangkap itu dari lagu-lagu yang dia putar di winamp komputernya. Lagu-lagu yang sampai sekarang amat sangat membekas perih di alam bawah sadarku. Sampai-sampai aku memilih untuk menggantinya saja dengan lagu lain. Tapi ada satu lagu yang membuat dia terdiam, karena seorang teman pernah mengatakan ini ketika Catur memutarnya, "Kamu bisa membohongi orang lain, tapi Kamu tidak bisa membohongi diri kamu sendiri ". Catur menanti sebuah jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah dia lontarkan.
Itulah kenapa, ketika tiba-tiba aku dengar lagu ini, aku seperti mati gaya, hanya diam tapi pikiranku seperti kembali ke saat-saat itu. Tapi sayangnya lagu ini adalah lagu favorit suamiku, ketika semalam dia mainkan lagu ini lewat ipod, aku mencoba untuk kuat, tapi ternyata aku tidak sanggup, dalam diam aku hanya bisa memeluk suamiku dan akhirnya jatuhlah airmata itu.
Langganan:
Komentar (Atom)