Kemarin iseng-iseng aku baca di blognya orang lain, story about suka duka tinggal dirumah mertua. Rata-rata, mereka bercerita kalau tinggal sama mertua itu "kita jadi tidak mandiri". Aku jadi wondering, yang dikatakan "tidak mandiri" itu yang bagaimana, just because we live at the same roof ? lalu seseorang dikatakan tidak mandiri. Terus what if semua biaya operasional rumah yang nanggung adalah kita yang "numpang", apakah juga dianggap tidak mandiri. Jujur aku amat sangat tidak terima.
Dari awal sebelum nikah, aku sudah bilang sama calon suamiku ( dulu ), bahwa aku tidak ingin tinggal dirumah orangtuaku atau dirumah orangtuamu. Tapi sepertinya aku harus mengubur harapan itu untuk sementara (hopefully). Kedua orangtua suamiku bergantung sepenuhnya kepada anaknya.Hmmmm......
Setahun berlalu, sekarang kita bukan lagi berdua tapi bertiga dengan jagoan kecilku. Alhamdulillah, so far things going well for this first year, tapi keinginanku untuk tinggal hanya dengan keluarga kecilku tidak akan pernah padam. Tidak pernah berhenti aku ngobrolin masalah ini sama suamiku karena aku tahu suamiku juga memendam keinginan yang sama. Seperti kemarin, aku bilang ke suamiku, kalau keinginanku untuk tinggal dengan keluarga kecilku bukan karena ada masalah dengan mertua tapi karena, disini dirumah mertua, " I can't express myself, I cannot express to my husband, to my son and the important thing is...I cannot express to my own family. I feel like, I walk to other 's people corridor padahal I have my own but I can't because it's locked". Seperti hari sebelumnya ketika aku dan suamiku harus pulang malam, jujur aku merasa sedih karena artinya waktuku bersama radit berkurang beberapa menit. Dalam perjalanan pulang aku hanya diam dan menangis. Begitu sampai rumah, aku mendapati radit tidur bersama emak dan oi'nya. Kemudian ibu cerita bagaimana tingkah polahnya radit siang tadi. Aku dengar cerita ibu mertuaku tapi aku tidak berani menatap wajahnya karena aku habis menangis. Aku tidak mau ada pertanyaan " Kenapa ?". Tapi ternyata adiknya menangkap lain, dia marah karena aku tidak menghiraukan ibu cerita. Suamiku yang merasa tidak terima dia bilang "namanya orang pasti ada saatnya sumpek". Dan ketika suamiku cerita ke aku masalah ini, airmataku kembali meluncur deras. " Aku bisa membaca isi hatimu yang paling dalam" : " Kenapa sih gendut tidak mau ngontrak saja !".
Cinta bukan hanya saat anda merasa membutuhkannya. Cinta adalah saat berbagi......
Jumat, 23 Desember 2011
Minggu, 27 November 2011
Chapter Three
Rasanya belum genap setahun aku cerita soal celengan perhiasan emasku, tapi beberapa hari yang lalu, ibu mertuaku minta mas Wira untuk merelakan emas itu buat biaya ngurus sertifikat rumah. Belum sempat mas Wira cerita ( atau memang tidak mau cerita ) ke aku, mertuaku sudah cerita sendiri ke aku. Dan malam harinya, aku diskusikan hal ini ke suamiku. Ketika mas Wira akhirnya bertanya, "Trus...gimana menurut kamu ?"
" Gimana ya mas, rasanya belum lega kita bernafas karena biaya persalinanku, eh....sekarang sudah ada lagi, jujur aku agak keberatan ".
" Sebenernya aku juga nggak mau karena ini gambling, tapi yo opo yo mumpung bapak sama orang yang punya rumah ini dulu masih sehat, jadi mending diurus aja sekarang ".
" Tapi mas, simpanan kita sekarang nggak banyak lho, ntar kalo ada apa-apa gimana ?".
" Iya sih, aku juga tahu itu ", jawab mas Wira sambil menarik nafas.
Dan aku cuma bisa diam sambil ngeloni jagoan kecilku, tapi dalam hati, sedih nyesek rasanya, dan akhirnya airmataku tidak mampu untuk dibendung.
Mungkin mas Wira tahu apa yang ada dipikiranku. karena tidak lama kemudian mas Wira ngomong, " Sebenarnya aku nggak rela ay, karena ini uangmu, simpanan pribadimu, waktu kamu nebus emas ini aja, sudah tamparan buat aku....eh sekarang malah disuruh jual, mau ditaruh dimana mukaku ini ?!"
Dan airmataku semakin deras mengalir membasahi pipi, bantal dan juga tempat tidurku. Aku tidak mampu untuk berkata-kata, aku hanya diam dan tidak menoleh ke arah mas Wira sampai aku tertidur.
" Gimana ya mas, rasanya belum lega kita bernafas karena biaya persalinanku, eh....sekarang sudah ada lagi, jujur aku agak keberatan ".
" Sebenernya aku juga nggak mau karena ini gambling, tapi yo opo yo mumpung bapak sama orang yang punya rumah ini dulu masih sehat, jadi mending diurus aja sekarang ".
" Tapi mas, simpanan kita sekarang nggak banyak lho, ntar kalo ada apa-apa gimana ?".
" Iya sih, aku juga tahu itu ", jawab mas Wira sambil menarik nafas.
Dan aku cuma bisa diam sambil ngeloni jagoan kecilku, tapi dalam hati, sedih nyesek rasanya, dan akhirnya airmataku tidak mampu untuk dibendung.
Mungkin mas Wira tahu apa yang ada dipikiranku. karena tidak lama kemudian mas Wira ngomong, " Sebenarnya aku nggak rela ay, karena ini uangmu, simpanan pribadimu, waktu kamu nebus emas ini aja, sudah tamparan buat aku....eh sekarang malah disuruh jual, mau ditaruh dimana mukaku ini ?!"
Dan airmataku semakin deras mengalir membasahi pipi, bantal dan juga tempat tidurku. Aku tidak mampu untuk berkata-kata, aku hanya diam dan tidak menoleh ke arah mas Wira sampai aku tertidur.
Kamis, 24 November 2011
Chapter Two
"Mbak, sampeyan nggak pengen tinggal sendiri ta ?"
Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari mulut teman sekantorku.
"Ya...pengen lah?!" jawabku pasti sambil menambahkan, "Dari sebelum nikah, aku memang punya keinginan untuk tinggal berdua tok sama bojoku, tapi kalau kondisinya kayak gini, yo opo maneh ?!"
" Sakjane yo mungkin aja sih ?!" meskipun dalam hati berkata " Kayaknya nggak mungkin banget dech ".
Percakapan ini sudah berlangsung beberapa hari yang lalu, tapi semalam iseng-iseng aku ceritakan ke suamiku. Kemudian Mas Wira nanya, " Ok, sekarang aku tanya, mungkin yo opo ?"
" Ya....sampeyan tetep ngasih bapak sama ibu tapi nggak perlu nanggung yang lain-lain ".
" Bapak sama ibu itu nggak ada penghasilan, terus dapat uang darimana ?".
" Kan ada Tya, adikmu, kalau kita nggak tinggal disini kan belanjanya berkurang jadi dananya bisa dialokasikan ke yang lain ?!"
" Tya itu tanggungane banyak !?"
" Emang mas tahu, tanggungane Tya itu apa aja ?"
" Mbuh....!?"
" Hmmmmm......"
" Maksudku, biar dia juga belajar jadi nggak njagakno mas'e ae gitu, kayak kapan hari dia minta uang buat tabungan koperasinya ".
" Wong kalau dia minta uang tapi aku lagi nggak punya, aku nggak kasih gitu lo !"
" Hmmm....." cuma itu yang bisa terucap sambil kepalaku bersandar di dada Mas Wira .
Akhirnya diskusi berakhir sampai disini, meski kadang suka sebel juga tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain "diam dan nikmati".
Akhirnya diskusi berakhir sampai disini, meski kadang suka sebel juga tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain "diam dan nikmati".
Selasa, 22 November 2011
Raditya Dika Prawira
Yeah.....that is my son's name. Kayak nama penulis, tapi bukannya mau nyama-nyama'in tp emang artinya bagus koq. Anak yang mempunyai keistimewaan, kalau " Prawira " sendiri, selain nama papanya tapi juga punya arti "teguh hatinya". Lahir tanggal 25 Agustus 2011, hari Kamis Kliwon.
Waktu lahir, beratnya 3200 gram, lewat bedah caesar, maunya sih normal tapi katanya dokter ada lilitan di lehernya atau mungkin itu kerjaan dokter aja, nggak mau ambil resiko. Kenapa aku bisa bilang begitu, karena hampir semua pasiennya dr. Ali Mahmud, Sp.OG lahiran lewat bedah caesar. Matanya sipit kayak mamanya, kulitnya bersih kayak papanya. Lucu banget, banyak yang bilang kayak "cina". Ya....wajarlah kan papanya ada keturunan cina meskipun matanya lebih lebar dari aku. Pokoknya Radit itu perfect combination. Liat aja fotonya, What a handsome boy !!
Back to my daily activity
Today is my first day, i'm back after three month maternity leave. A little bit confuse because I don't know what to do. All of my jobs has been well handled by all of my friends. Maybe I should find another job, they seem do not need me anymore.
Kamis, 23 Juni 2011
sakitmu......sakitku juga
" Wanita tercipta dari tulang rusuk pria, agar dia selalu dekat dihati pemiliknya dan merasakan apa yang dirasa pemiliknya ". Sebuah kalimat sederhana tapi sarat makna.
Mungkin ini sebabnya, kadang aku suka tiba-tiba sedih yang tidak bisa dijelaskan alasannya atau senang ketika melihat dia tersenyum atau tertawa atau berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat dia sedih.
Begitu berat beban yang dia pikul, kadang aku seperti merasa bersalah telah membuat dia berada dalam situasi seperti ini. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan karena ini adalah keinginan kita berdua yang telah dipikir dan ditimbang secara dewasa dan bukan hanya karena dorongan nafsu semata, hanya ada cinta dan do'a semoga kita selalu bersama selamanya dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Amiin......
Mungkin ini sebabnya, kadang aku suka tiba-tiba sedih yang tidak bisa dijelaskan alasannya atau senang ketika melihat dia tersenyum atau tertawa atau berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat dia sedih.
Begitu berat beban yang dia pikul, kadang aku seperti merasa bersalah telah membuat dia berada dalam situasi seperti ini. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan karena ini adalah keinginan kita berdua yang telah dipikir dan ditimbang secara dewasa dan bukan hanya karena dorongan nafsu semata, hanya ada cinta dan do'a semoga kita selalu bersama selamanya dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Amiin......
Selasa, 14 Juni 2011
Chapter One
" Mbak Ira, kemarin ibu ngobrol sama Tya ".
" Ngobrol apa to bu ?" tanyaku.
" Eh....ibu itu suka sedih nglihat masnya Tya, hampir separo gajinya dipake buat biaya operasional rumah ini, untung tenan mbakyumu kuwi bukan type perempuan yang suka minta ini itu ".
" Saya sama Mas Wira itu sudah sepakat buat bagi-bagi tugas koq, gajinya Mas Wira buat pengeluaran bulanan, lha gaji Saya buat ditabung ".
Itulah sepenggal obrolanku dengan mertua dan adik iparku.
Sejak menikah aku dan Mas Wira memang masih tinggal dirumah orangtuanya. Itupun atas permintaan ibu mertuaku, karena orangtua Mas Wira sudah tidak berpenghasilan dan masih ada adik Mas Wira yang masih perlu bantuan. Hal ini sudah lama dilontarkan sama mertuaku menjelang aku dan Mas Wira nikah. Tidak ada yang aneh dengan permintaan ibu, toh Bapak Ibuku sendiri juga sama, bedanya kelima anak-anaknya sudah mentas semua.
Setelah menikah, aku ajak mas Wira untuk membuat simulasi perencanaan keuangan untuk nantinya di crosscheck dengan realisasinya. Tapi sepertinya mbleset semuanya, banyak hal-hal diluar dugaan yang terjadi yang mengharuskan aku dan mas Wira menguras tabungan. Sebelum aku dan mas Wira menikah, ibu memang pernah cerita kalau ada emas warisan keluarga yang sayang bila dijual ke orang lain, akhirnya ibu membawanya ke pegadaian dan menawarkan ke anak-anaknya dan adik-adik bapak untuk menebus. Dulu aku sama mas Wira memang sudah patungan untuk nyicil nebus emas tapi karena kekurangtahuan kita soal gaden akhirnya banyak tanggungan yang ngendon dan harus segera ditebus dalam waktu tiga bulan setelah kita menikah, dan jumlahnya nggak tanggung-tanggung, mungkin bisa nyampe kurang lebih sembilan jutaan. Aku sama mas Wira sempat shock dengarnya, apalagi aku tahu mas Wira orangnya paling sensi kalau sudah bicara masalah uang. Pelan-pelan aku ajak bicara masalah ini, aku nggak tahu siapa yang milih, entah ibu atau mas Wira sendiri, tapi yang aku tahu sekarang ada tiga perhiasan emas 22 - 23 karat dengan berat kurang lebih 15 gr yang harus segera ditebus. Hanya ada satu jalan, deposito, aku tahu berat buat mas Wira untuk mencairkan karena itu adalah uangku, simpananku sebelum aku bertemu dengan mas Wira, dan baru aku pakai untuk biaya nikah, dan uang hasil buwuhan, oleh mas Wira diberikan semuanya ke aku sebagai ganti. Tapi sekarang, uang itu harus keluar lagi untuk diubah menjadi "harta yang tidak produktif" mengutip istilah dari seorang perencana keuangan Safir Senduk.
Belum hilang shock karena gaden, sekarang aku dan mas Wira sudah dibuat kaget lagi, karena diam-diam ibu membeli springbed buat kita, alasannya kasihan kalau lihat aku dan mas Wira tidur terpisah, aku diatas dan mas Wira dibawah, karena aku sekarang sudah hamil. Padahal kita berdua fine-fine aja. Di awal sih, ibu bilang, kalau yang nyicil kasur ini, biar ibu saja. Mas Wira pasti tahu kalau aku kurang begitu suka dengan keputusan ibu beli kasur, dan itu bisa terbaca ketika aku tanya, " Berapa harganya, mas ?".
Mas Wira cuma jawab, " Sudah nggak usah dipikirin ".
Tetep aja aku keukeuh nanya, " Berapa koq ?!".
Akhirnya dengan berat hati dia jawab, " Tiga juta lebih, tapi ibu yang bayarin ".
" Duitnya darimana ?".
" Nggak tahu !".
" Hmmmm..............".
Baru juga nyicil sekali, aku lihat ibu kelihatan murung kayak banyak pikiran. Aku coba tanya ke mas Wira, " Mas, aku lihat akhir-akhir ini, ibu koq murung ya, kayak ada yang dipikirin, mikirin apa to mas ?".
" Ya coba kamu tanya sendiri sama ibu ".
" Weleh. ya mana mungkin mau ngaku mas ".
" Mikirin Tya kali ya mas, wajarlah namanya juga orangtua, tapi adikmu itu emang nggak tahu ya, ga ngerti aku ". Tapi pikiranku masih berusaha keras untuk mencari tahu kenapa ibu murung seperti ini, nggak mungkin kalau cuma masalah tya, pasti ada yang lain. Dan tiba-tiba saja pikiran itu muncul, " Jangan-jangan, gara-gara cicilan kasur, Mas !".
" Ya, pasti gara-gara itu ibu murung !".
" Ya, coba nanti aku tanya sama ibu ".
Dan akhirnya suatu saat, tanpa banyak bertanya, mas Wira minta kartu cicilan kasur ke ibu, entah apa yang ada dipikiran ibu saat itu, senangkah atau mungkin merasa bersalah, aku tidak tahu.
Beberapa bulan menikah, aku merasa kasihan melihat mas Wira, dia pernah bilang, seperti merasa dibodohi, aku hanya bilang, " Itukan karena salah Mas Wira sendiri, sampeyan selalu emosi dulu kalau diajak ngomong masalah uang, padahal sebagai salah satu tulang punggung keluarga, sampeyan itu juga punya hak untuk bertanya, bahkan untuk membatasi pengeluaran". Mas Wira hanya bisa diam dan merenung, entah apa yang ada difikirannya saat itu.
Diam-diam dikantor, aku selalu mencari informasi tentang kiat-kiat mengelola keuangan keluarga, kemudian aku pelajari, kalau sekiranya bagus dan bisa aku aplikasikan di rumah tanggaku, aku print dan aku tunjukkan ke suamiku. Dari situ juga, diam-diam aku buat buku pengeluaran keluarga, dan di akhir bulan, aku tunjukkan ke mas Wira, dan dia senang karena sekarang dia sudah punya sekretaris merangkap manager keuangan pribadi. Aku bilang ke mas Wira, " Tahun-tahun awal permikahan, memang tahun yang berat buat pasangan baru, karena secara finansial belum stabil, jadi kita berdua musti sabar ya mas".
" Ngobrol apa to bu ?" tanyaku.
" Eh....ibu itu suka sedih nglihat masnya Tya, hampir separo gajinya dipake buat biaya operasional rumah ini, untung tenan mbakyumu kuwi bukan type perempuan yang suka minta ini itu ".
" Saya sama Mas Wira itu sudah sepakat buat bagi-bagi tugas koq, gajinya Mas Wira buat pengeluaran bulanan, lha gaji Saya buat ditabung ".
Itulah sepenggal obrolanku dengan mertua dan adik iparku.
Sejak menikah aku dan Mas Wira memang masih tinggal dirumah orangtuanya. Itupun atas permintaan ibu mertuaku, karena orangtua Mas Wira sudah tidak berpenghasilan dan masih ada adik Mas Wira yang masih perlu bantuan. Hal ini sudah lama dilontarkan sama mertuaku menjelang aku dan Mas Wira nikah. Tidak ada yang aneh dengan permintaan ibu, toh Bapak Ibuku sendiri juga sama, bedanya kelima anak-anaknya sudah mentas semua.
Setelah menikah, aku ajak mas Wira untuk membuat simulasi perencanaan keuangan untuk nantinya di crosscheck dengan realisasinya. Tapi sepertinya mbleset semuanya, banyak hal-hal diluar dugaan yang terjadi yang mengharuskan aku dan mas Wira menguras tabungan. Sebelum aku dan mas Wira menikah, ibu memang pernah cerita kalau ada emas warisan keluarga yang sayang bila dijual ke orang lain, akhirnya ibu membawanya ke pegadaian dan menawarkan ke anak-anaknya dan adik-adik bapak untuk menebus. Dulu aku sama mas Wira memang sudah patungan untuk nyicil nebus emas tapi karena kekurangtahuan kita soal gaden akhirnya banyak tanggungan yang ngendon dan harus segera ditebus dalam waktu tiga bulan setelah kita menikah, dan jumlahnya nggak tanggung-tanggung, mungkin bisa nyampe kurang lebih sembilan jutaan. Aku sama mas Wira sempat shock dengarnya, apalagi aku tahu mas Wira orangnya paling sensi kalau sudah bicara masalah uang. Pelan-pelan aku ajak bicara masalah ini, aku nggak tahu siapa yang milih, entah ibu atau mas Wira sendiri, tapi yang aku tahu sekarang ada tiga perhiasan emas 22 - 23 karat dengan berat kurang lebih 15 gr yang harus segera ditebus. Hanya ada satu jalan, deposito, aku tahu berat buat mas Wira untuk mencairkan karena itu adalah uangku, simpananku sebelum aku bertemu dengan mas Wira, dan baru aku pakai untuk biaya nikah, dan uang hasil buwuhan, oleh mas Wira diberikan semuanya ke aku sebagai ganti. Tapi sekarang, uang itu harus keluar lagi untuk diubah menjadi "harta yang tidak produktif" mengutip istilah dari seorang perencana keuangan Safir Senduk.
Belum hilang shock karena gaden, sekarang aku dan mas Wira sudah dibuat kaget lagi, karena diam-diam ibu membeli springbed buat kita, alasannya kasihan kalau lihat aku dan mas Wira tidur terpisah, aku diatas dan mas Wira dibawah, karena aku sekarang sudah hamil. Padahal kita berdua fine-fine aja. Di awal sih, ibu bilang, kalau yang nyicil kasur ini, biar ibu saja. Mas Wira pasti tahu kalau aku kurang begitu suka dengan keputusan ibu beli kasur, dan itu bisa terbaca ketika aku tanya, " Berapa harganya, mas ?".
Mas Wira cuma jawab, " Sudah nggak usah dipikirin ".
Tetep aja aku keukeuh nanya, " Berapa koq ?!".
Akhirnya dengan berat hati dia jawab, " Tiga juta lebih, tapi ibu yang bayarin ".
" Duitnya darimana ?".
" Nggak tahu !".
" Hmmmm..............".
Baru juga nyicil sekali, aku lihat ibu kelihatan murung kayak banyak pikiran. Aku coba tanya ke mas Wira, " Mas, aku lihat akhir-akhir ini, ibu koq murung ya, kayak ada yang dipikirin, mikirin apa to mas ?".
" Ya coba kamu tanya sendiri sama ibu ".
" Weleh. ya mana mungkin mau ngaku mas ".
" Mikirin Tya kali ya mas, wajarlah namanya juga orangtua, tapi adikmu itu emang nggak tahu ya, ga ngerti aku ". Tapi pikiranku masih berusaha keras untuk mencari tahu kenapa ibu murung seperti ini, nggak mungkin kalau cuma masalah tya, pasti ada yang lain. Dan tiba-tiba saja pikiran itu muncul, " Jangan-jangan, gara-gara cicilan kasur, Mas !".
" Ya, pasti gara-gara itu ibu murung !".
" Ya, coba nanti aku tanya sama ibu ".
Dan akhirnya suatu saat, tanpa banyak bertanya, mas Wira minta kartu cicilan kasur ke ibu, entah apa yang ada dipikiran ibu saat itu, senangkah atau mungkin merasa bersalah, aku tidak tahu.
Beberapa bulan menikah, aku merasa kasihan melihat mas Wira, dia pernah bilang, seperti merasa dibodohi, aku hanya bilang, " Itukan karena salah Mas Wira sendiri, sampeyan selalu emosi dulu kalau diajak ngomong masalah uang, padahal sebagai salah satu tulang punggung keluarga, sampeyan itu juga punya hak untuk bertanya, bahkan untuk membatasi pengeluaran". Mas Wira hanya bisa diam dan merenung, entah apa yang ada difikirannya saat itu.
Diam-diam dikantor, aku selalu mencari informasi tentang kiat-kiat mengelola keuangan keluarga, kemudian aku pelajari, kalau sekiranya bagus dan bisa aku aplikasikan di rumah tanggaku, aku print dan aku tunjukkan ke suamiku. Dari situ juga, diam-diam aku buat buku pengeluaran keluarga, dan di akhir bulan, aku tunjukkan ke mas Wira, dan dia senang karena sekarang dia sudah punya sekretaris merangkap manager keuangan pribadi. Aku bilang ke mas Wira, " Tahun-tahun awal permikahan, memang tahun yang berat buat pasangan baru, karena secara finansial belum stabil, jadi kita berdua musti sabar ya mas".
Jumat, 10 Juni 2011
Menanti Sebuah Jawaban
Bukan...............aku bukan sedang menanti sebuah jawaban, it's just a title of a song by PADI.
Lagu ini emang dahsyat banget, saking dahsyatnya aku seperti menghindar dari lagu ini. Tidak ada yang salah dengan lagu ini, this song is awesome, great music, great lyric tapi lagu ini membawa kenangan pahit. Feels like my heart being sliced and cry.
Masih ingat saat-saat itu sekitar tahun 2005 - 2006, aku pernah dekat dengan seorang laki-laki teman satu kantor, namanya Catur. Seingatku tidak pernah terucap kata "sayang" ataupun "cinta" dari mulutnya, tapi dari tindakan dan barang-barang pemberiannya aku merasa dan teman-teman yang lain merasa yakin bahwa ada perasaan lebih diantara kita. Tapi ternyata Tuhan punya rencana yang lebih baik buat kita. Suatu ketika aku mencuri dengar kalau Catur ada rencana nonton Minggu sore, merasa tidak diajak, naluri detektifku muncul. Aku tidak tahu dimana dia akan nonton dan jam berapa dia mau nonton, yang aku tahu hanya Minggu sore. Aku ajak temenku nonton ditempat biasanya Catur dan aku nonton (untungnya dia tidak cari tempat lain). Sampai di bioskop, aku lihat sekelilingku, tidak ada seorangpun yang aku kenal, tapi aku tetap beli tiket dan tetap berharap akan bertemu dia. Sampai saatnya masuk studio aku masih belum melihatnya, agak kecewa sebenarnya tapi ya sudahlah itung-itung refreshing. Ternyata skenario Tuhan berkata lain, ketika aku keluar dari studio dan berjalan keluar dari gedung bioskop, aku melihatnya bersama seorang perempuan. Jantungku berdegup kencang sekali, aku bahkan tidak mampu untuk melihatnya. Tapi Catur yang justru menyapaku, aku tidak punya pilihan lain kecuali berhenti dan tetap tenang meski bibirku bergetar saat ngobrol dan dikenalkan dengan teman perempuannya. Aku tidak mau berlama-lama ditempat itu, rasanya tubuh, jiwa dan pikiranku tidak sinkron saat itu. Akhirnya aku pamit dan tidak lupa mengucapkan " Selamat nonton !". Remuk rasanya hatiku, aku seperti kehilangan sesuatu yang mungkin tidak bisa aku temukan lagi.
Hatiku sudah bulat memutuskan, aku tidak mau berharap banyak dari dia meski di kantor aku tetap berlaku seperti biasa. Aku tidak benar-benar tahu apa sebenarnya yang ada dipikirannya, dia seperti masih ingin menjalin perasaan ini tapi di satu sisi, dia tidak mampu menolak perasaan yang ditawarkan teman perempuannya itu. Dia tidak mau kehilangan aku dan perempuan itu. Seiring berjalannya waktu, mungkin Catur sudah mulai sadar kalau aku sudah tidak memperhatikannya lagi. Aku bisa menangkap itu dari lagu-lagu yang dia putar di winamp komputernya. Lagu-lagu yang sampai sekarang amat sangat membekas perih di alam bawah sadarku. Sampai-sampai aku memilih untuk menggantinya saja dengan lagu lain. Tapi ada satu lagu yang membuat dia terdiam, karena seorang teman pernah mengatakan ini ketika Catur memutarnya, "Kamu bisa membohongi orang lain, tapi Kamu tidak bisa membohongi diri kamu sendiri ". Catur menanti sebuah jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah dia lontarkan.
Hatiku sudah bulat memutuskan, aku tidak mau berharap banyak dari dia meski di kantor aku tetap berlaku seperti biasa. Aku tidak benar-benar tahu apa sebenarnya yang ada dipikirannya, dia seperti masih ingin menjalin perasaan ini tapi di satu sisi, dia tidak mampu menolak perasaan yang ditawarkan teman perempuannya itu. Dia tidak mau kehilangan aku dan perempuan itu. Seiring berjalannya waktu, mungkin Catur sudah mulai sadar kalau aku sudah tidak memperhatikannya lagi. Aku bisa menangkap itu dari lagu-lagu yang dia putar di winamp komputernya. Lagu-lagu yang sampai sekarang amat sangat membekas perih di alam bawah sadarku. Sampai-sampai aku memilih untuk menggantinya saja dengan lagu lain. Tapi ada satu lagu yang membuat dia terdiam, karena seorang teman pernah mengatakan ini ketika Catur memutarnya, "Kamu bisa membohongi orang lain, tapi Kamu tidak bisa membohongi diri kamu sendiri ". Catur menanti sebuah jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah dia lontarkan.
Itulah kenapa, ketika tiba-tiba aku dengar lagu ini, aku seperti mati gaya, hanya diam tapi pikiranku seperti kembali ke saat-saat itu. Tapi sayangnya lagu ini adalah lagu favorit suamiku, ketika semalam dia mainkan lagu ini lewat ipod, aku mencoba untuk kuat, tapi ternyata aku tidak sanggup, dalam diam aku hanya bisa memeluk suamiku dan akhirnya jatuhlah airmata itu.
Kamis, 19 Mei 2011
Eric Yudi Prawira
Mumpung masih baru dan masih inget, aku sengaja buat postingan ini.
Pertama kali lihat, pas lagi antar surat lamaran kerja. Tidak berapa lama begitu sampai rumah, aku di telpon untuk interview.
Hari pertama masuk kerja, tidak ada yang terlalu istimewa kecuali dia adalah orang pertama yang ngajak aku kenalan. Malam harinya, aku dikagetkan ketika tidur berbuah mimpi tentang dia. Saat itu kita berdua sedang duduk di atas sebuah batu diatas bukit dan tangannya sedang mengelus kepalaku. It was a weird dream.....Tiga kali aku ngalamin mimpi seperti itu. Padahal saat itu kita tidak terlalu dekat, ngobrol aja termasuk jarang. Sekilas aku lihat orangnya baik. Tapi agak ketus kalo ngomong sama cewek meskipun dia tidak merasa.
Kita mulai dekat ketika di ikutkan pelatihan asesor kompetensi, kita jadi peserta sekaligus panitia. Bisa dibayangkan betapa sibuknya dan akhirnya kemana-mana selalu barengan. Tapi setelah itu everything back to normal.
Suatu malam, ketika aq sudah terlelap, aku dikagetkan HPq bunyi ada sms masuk, aku baca siapa pengirimnya, ....awawaw. Ketika aku baca, sepertinya salah kirim tapi aku coba balas. Eh...ternyata dia kaget juga koq bisa nyasar, padahal dia yakin kirimnya bener. Setelah itu segala sesuatunya sedikit berbeda, kita jadi sering sms-an, curi - curi pandang ketika dikantor, saling goda, tidak jelas siapa yang mendahului tapi yang pasti kita merasa klik. Sampai suatu saat ketika aku pengen nginep dirumah teman di pandaan, dia pengen nganter terus cabut ke tretes ke rumah saudaranya. Seneng rasanya diajak klinong2 tapi rasa seneng itu tidak bertahan lama karena saat mampir ke rumahnya dan dikenalkan ke ibu dan adiknya, ternyata ibunya membaca perasaan yang ada dihati anaknya dan beliau tidak setuju dengan hubungan kita. Kira-kira dua atau tiga bulan kita berdua layaknya dua orang yang tidak saling kenal. Sampai HPnya dikasihkan ke adiknya hanya supaya kita tidak bisa ngobrol lagi. Sesak rasanya, aku harus mangalami kejadian seperti ini lagi. Hari-hariku berlalu begitu membosankan, pengen rasanya keluar dari tempat itu dan tidak mau kenal lagi dengan dia.
Saat hatiku sudah siap untuk melepas perasaan ini, sahabat kita berdua ngajak aku untuk main ke rumahnya. Tidak ada kesan, aku anggap hanya sekedar main ke rumah teman. Begitu sampai rumahnya, aku shock saat melihat sorot matanya yang begitu berbinar-binar, belum pernah aku melihat hal seperti itu. Yang ada dalam benakku hanyalah, Oh...God, he's lying with his own feeling. Deep down inside i believed, that he still had a feeling for me. AKhirnya ..... setelah hari itu, kita backstreet-an.
I always learn from the experience, in this relationship, communication is the most important thing. So, meskipun ketemu tiap hari dikantor tapi sebelum tidur kita selalu ngobrol by phone. And it happened for almost 1,5 years. Sampai akhirnya kita menikah.....
Pertama kali lihat, pas lagi antar surat lamaran kerja. Tidak berapa lama begitu sampai rumah, aku di telpon untuk interview.
Hari pertama masuk kerja, tidak ada yang terlalu istimewa kecuali dia adalah orang pertama yang ngajak aku kenalan. Malam harinya, aku dikagetkan ketika tidur berbuah mimpi tentang dia. Saat itu kita berdua sedang duduk di atas sebuah batu diatas bukit dan tangannya sedang mengelus kepalaku. It was a weird dream.....Tiga kali aku ngalamin mimpi seperti itu. Padahal saat itu kita tidak terlalu dekat, ngobrol aja termasuk jarang. Sekilas aku lihat orangnya baik. Tapi agak ketus kalo ngomong sama cewek meskipun dia tidak merasa.
Kita mulai dekat ketika di ikutkan pelatihan asesor kompetensi, kita jadi peserta sekaligus panitia. Bisa dibayangkan betapa sibuknya dan akhirnya kemana-mana selalu barengan. Tapi setelah itu everything back to normal.
Suatu malam, ketika aq sudah terlelap, aku dikagetkan HPq bunyi ada sms masuk, aku baca siapa pengirimnya, ....awawaw. Ketika aku baca, sepertinya salah kirim tapi aku coba balas. Eh...ternyata dia kaget juga koq bisa nyasar, padahal dia yakin kirimnya bener. Setelah itu segala sesuatunya sedikit berbeda, kita jadi sering sms-an, curi - curi pandang ketika dikantor, saling goda, tidak jelas siapa yang mendahului tapi yang pasti kita merasa klik. Sampai suatu saat ketika aku pengen nginep dirumah teman di pandaan, dia pengen nganter terus cabut ke tretes ke rumah saudaranya. Seneng rasanya diajak klinong2 tapi rasa seneng itu tidak bertahan lama karena saat mampir ke rumahnya dan dikenalkan ke ibu dan adiknya, ternyata ibunya membaca perasaan yang ada dihati anaknya dan beliau tidak setuju dengan hubungan kita. Kira-kira dua atau tiga bulan kita berdua layaknya dua orang yang tidak saling kenal. Sampai HPnya dikasihkan ke adiknya hanya supaya kita tidak bisa ngobrol lagi. Sesak rasanya, aku harus mangalami kejadian seperti ini lagi. Hari-hariku berlalu begitu membosankan, pengen rasanya keluar dari tempat itu dan tidak mau kenal lagi dengan dia.
Saat hatiku sudah siap untuk melepas perasaan ini, sahabat kita berdua ngajak aku untuk main ke rumahnya. Tidak ada kesan, aku anggap hanya sekedar main ke rumah teman. Begitu sampai rumahnya, aku shock saat melihat sorot matanya yang begitu berbinar-binar, belum pernah aku melihat hal seperti itu. Yang ada dalam benakku hanyalah, Oh...God, he's lying with his own feeling. Deep down inside i believed, that he still had a feeling for me. AKhirnya ..... setelah hari itu, kita backstreet-an.
I always learn from the experience, in this relationship, communication is the most important thing. So, meskipun ketemu tiap hari dikantor tapi sebelum tidur kita selalu ngobrol by phone. And it happened for almost 1,5 years. Sampai akhirnya kita menikah.....
Senin, 17 Januari 2011
II POSITIVE II
Sudah satu bulan lebih aku menjadi pasangan baru.....belum ada hambatan yang berarti dan semoga akan terus seperti ini. Dan sekarang aku sedang menikmati rasanya menjadi hamil, ya.......i'm pregnant now and it's already 7 weeks. Belum merasa mual atau ngidam yang aneh-aneh, semoga akan terus seperti ini sampai saatnya melahirkan nanti.
Masih inget rasanya pas belum telat menstruasi, perut berasa kram terus, cari-cari informasi di internet termasuk tanda-tanda kehamilan. Begitu datang tanggalnya, belum berani woro-woro.....eh si mas g sabar, nanya - nanya ke ibu tanda - tanda orang hamil. Cape dech......!!!
Ditunggu satu minggu sambil minum susu khusus ibu hamil dan CDR....alhamdulillah sudah lewat. Sepakat mau beli testpack minggu berikutnya, tapi udah g sabar akhirnya pulang kerja beli dech untuk dipake besok pagi-pagi. Alhamdulillah ....hasilnya POSITIVE.
Kalau saja bukan karena ada rencana gathering kantor, rencana ke dokter kandungan pasti nunggu jalan 2 bulan. Tapi ternyata harus dipercepat karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kandunganku karena kurang penjagaan. Kalau diinget-inget, lucu juga pas mau berangkat ke dokter, bingung, takut, kuatir, wis macem-macem dech rasane. Sampe tanganku dingin, mual-mual. Aku bingung karena ga tau apa yang mau diperiksa di sana. Musti pake celana apa rok. Akhirnya telpon saudara, setelah dikasih tau akhirnya berangkatlah ke rumah sakit bersalin deket rumah. Pas ngantri ternyata dokternya belum datang, baru datang sekitar jam 21.00, mana belum makan lagi.....laper.
Setelah dapat giliran, aku dan suamiku masuk kamar periksa, ditanya kapan terakhir menstruasi, terus disuruh timbang, habis itu disuruh naik ke tempat tidur, dibuka baju bagian perut, kasih gel, di USG.....dicari-cari, dokternya nanya lagi " Kapan terakhir mens ? '"28 November dok !, Baru si dokter sadar baru 5 minggu, masih berupa titik, di suruh datang lagi tanggal 2 Februari, harus sudah ada janinnya.
Akan aku jaga sebaik-baiknya......
Masih inget rasanya pas belum telat menstruasi, perut berasa kram terus, cari-cari informasi di internet termasuk tanda-tanda kehamilan. Begitu datang tanggalnya, belum berani woro-woro.....eh si mas g sabar, nanya - nanya ke ibu tanda - tanda orang hamil. Cape dech......!!!
Ditunggu satu minggu sambil minum susu khusus ibu hamil dan CDR....alhamdulillah sudah lewat. Sepakat mau beli testpack minggu berikutnya, tapi udah g sabar akhirnya pulang kerja beli dech untuk dipake besok pagi-pagi. Alhamdulillah ....hasilnya POSITIVE.
Kalau saja bukan karena ada rencana gathering kantor, rencana ke dokter kandungan pasti nunggu jalan 2 bulan. Tapi ternyata harus dipercepat karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kandunganku karena kurang penjagaan. Kalau diinget-inget, lucu juga pas mau berangkat ke dokter, bingung, takut, kuatir, wis macem-macem dech rasane. Sampe tanganku dingin, mual-mual. Aku bingung karena ga tau apa yang mau diperiksa di sana. Musti pake celana apa rok. Akhirnya telpon saudara, setelah dikasih tau akhirnya berangkatlah ke rumah sakit bersalin deket rumah. Pas ngantri ternyata dokternya belum datang, baru datang sekitar jam 21.00, mana belum makan lagi.....laper.
Setelah dapat giliran, aku dan suamiku masuk kamar periksa, ditanya kapan terakhir menstruasi, terus disuruh timbang, habis itu disuruh naik ke tempat tidur, dibuka baju bagian perut, kasih gel, di USG.....dicari-cari, dokternya nanya lagi " Kapan terakhir mens ? '"28 November dok !, Baru si dokter sadar baru 5 minggu, masih berupa titik, di suruh datang lagi tanggal 2 Februari, harus sudah ada janinnya.
Akan aku jaga sebaik-baiknya......
Langganan:
Komentar (Atom)

